Bagian #1 #LiterasiAI
Ledakan informasi yang dihasilkan artificial intelligence (AI) mengubah cara akses dan cara berinteraksi dengan informasi secara signifikan. Hampir sebagian besar orang menjadi mengalami ketergantungan terhadap konten yang dihasilkan oleh AI. Seiring dengan itu, tuntutan terhadap informasi yang kredibel, andal dan dapat diakses semua orang juga meningkat. Masalah penting mengenai kepercayaan pengguna terhadap keaslian dan kredibilitas informasi yang dihasilkan oleh AI menjadi perhatian yang mendesak.
Konten yang dihasilkan AI dan disajikan ke pengguna sering kali berupa jaringan informasi kompleks yang sulit dinavigasi. Selain itu, ketidakjelasan algoritma AI dan kurangnya transparansi dalam proses pengambilan keputusan juga dapat menimbulkan skeptisisme dan keraguan di kalangan pengguna. Seberapa andalkah informasi yang dihasilkan oleh AI? Kerangka kerja apa yang mengevaluasi kredibilitas teknologi AI?
Dalam konteks ini, pustakawan, yang terkenal karena keahliannya dalam kurasi, verifikasi, dan penyebaran informasi, memiliki posisi unik untuk menjembatani kesenjangan antara pengguna dan informasi yang dihasilkan AI. Pustakawan dapat berperan sebagai penerjemah dan mediator, memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam tentang seluk-beluk teknologi AI dan dampaknya terhadap pengambilan informasi. Pustakawan juga dapat meningkatkan kepercayaan pengguna dengan mendukung literasi AI dan mendukung transparansi dalam sistem AI.
Untuk mulai mengevaluasi AI, pengguna harus terlebih dahulu memahaminya atau menjadi melek AI. Literasi AI, terdiri dari mengetahui, memahami, menggunakan, dan mengevaluasi AI, serta mempertimbangkan permasalahan etika (Ng, et al, 2021). Individu yang melek AI juga memahami konsep dasar AI seperti pembelajaran mesin, pemrosesan bahasa alami, dan jaringan pembawa pesan informasi (neuron). Untuk membekali mahasiswa, peneliti, dan akademisi dengan keterampilan yang diperlukan untuk menavigasi lanskap yang kompleks ini, perpustakaan perlu memprioritaskan pengembangan sumber daya pelatihan yang memungkinkan individu untuk meneliti informasi mengenai aplikasi AI. Ketika pengguna perpustakaan memahami kemampuan dan keterbatasan AI, mereka dapat menilai alat dan sumber daya berbasis AI dengan tepat.
Konsep literasi AI dapat diajarkan di banyak jalur literasi tradisional, seperti literasi informasi, literasi media, dan literasi digital. Ingat, Anda tidak perlu menjadi ahli komputer untuk membuat atau menghadiri lokakarya literasi AI. Inti dari literasi AI tidak terletak pada keahlian teknis namun pada pengembangan pemikiran kritis.
Selain pemahaman mendasar tentang konsep AI, literasi AI juga melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi teknologi AI secara kritis. Penggunaan pendekatan terstruktur atau strategi pertanyaan spesifik dalam evaluasi dapat memainkan peran penting dalam memfasilitasi diskusi yang lebih bermakna, yang pada akhirnya mengarah pada peningkatan pemahaman dan evaluasi kritis.
—
Diterjemahkan secara bebas dari Key components of developing AI literacy at your institution
sumber: https://www.elsevier.com/connect/key-components-of-developing-ai-literacy-at-your-institution?utm_campaign=libraryconnectnewsletter&utm_source=linkedinnewsletter&utm_medium=referral&utm_content=Librarians&dgcid=RN_AG_Sourced_400004554 diakses pada 16 Februari 2024
Referensi yang digunakan dalam bagian ini:
Ng, D. T. K., Leung, J. K. L., Chu, K. W. S., & Qiao, M. S. (2021). AI literacy: Definition, teaching, evaluation and ethical issues. Proceedings of the Association for Information Science and Technology, 58(1), 504-509. https://doi.org/10.1002/pra2.487(opens in new tab/window)
