Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan untuk Pustakawan Perguruan Tinggi

Continuing Professional Development (CPD)

Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan merupakan terjemahan dari Continuing Professional Development (CPD). Rumusan CPD ini diambil oleh IFLA (International Federation of Library Association) dari Manifesto Unesco Public Library tahun 1994. Dinyatakan di manifesto tersebut Pustakawan adalah penghubung aktif antara pemustaka dan sumber daya informasi maupun pengetahuan. Bisa dikatakan kiprah pustakawan pada perpustakaan sangat krusial, dan diperlukan pustakawan yang profesional daam mengelola perpustakaan.

Beberapa upaya untuk menjaga keprofesionalan dalam mengelola perpustakaan adalah dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, bimbingan teknis, atau mengambil kursus singkat di bidang tertentu yang terkait. Hal ini dilandasi dengan kenyataan perkembangan keilmuan di bidang perpustakaan yang sangat dinamis.

Bimbingan Teknis

Bimtek (bimbingan teknis) Tenaga Perpustakaan Perguruan Tinggi Tahun 2022 Provinsi DKI Jakarta (zona D) dilaksanakan pada hari Senin-Selasa, 1-2 Agustus 2022 dengan tema: Implementasi Literasi Informasi Berbasis Teknologi Informasi untuk Mendukung Ekosistem Digital Pendidikan Perguruan Tinggi Indonesia.

Bimtek ini diselenggarakan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sedangkan narasumber adalah pustakawan  dari berbagai universitas anggota FPPTI. Untuk kelas C di Zona D narasumber adalah Lies Dwi Pustakawan Universitas Diponegoro Semarang.

Melalui kegiatan ini diharapkan pustakawan perguruan tinggi mampu mengaplikasikan keterampilan literasi informasi berbasis teknologi informasi dalam ekosistem digital pendidikan perguruan tinggi serta meningkatkan peran dalam ekosistem kerjanya. Untuk mecapai tujuan tersebut, Bimbingan Teknis Nasional ini dilengkapi dengan modul yang mengacu pada standar kompetensi literasi informasi untuk perguruan tinggi. Modul ini juga telah disesuaikan dengan penerapan teknologi informasi yang berkembang saat ini untuk mendukung kegiatan penelitian sehingga searah dengan tema besar Perpustakaan Nasional Indonesia yaitu Tranformasi Perpustakaan untuk Mewujudkan Ekosistem Digital Nasional.

Modul Bimbingan Teknis Nasional ini berisi 2 (dua) bagian yaitu:

Modul 1: langkah cerdas mendapatkan informasi akurat, valid, dan relevan

Modul 2: langkah cerdas membangun dan berbagi pengetahuan baru

Isi Modul

Modul 1 Langkah cerdas mendapatkan informasi akurat, valid dan relevan, dibagi menjadi tiga segmen, pada segmen A peserta mempelajari tentang VOSViewer, fungsi, persiapan dan penggunaan VOSViewer, penggunaan program Publish or Perish (PoP) untuk mengambil data, dan penggunaan aplikasi referens manajer Mendeley untuk melengkapi data.

Narasumber memperkenalkan  istilah invisible dan visible web dalam pencarian data dan logika Boolean operator dan operator lainnya dalam penelusuran informasi pada segmen B. Dan pada segmen C dipaparkan enam prinsip evaluasi sumber informasi dan seleksi informasi, perbedaan sumber dan informasi, ciri-ciri informasi yang memenuhi kaidah AVR, dan mendeteksi sumber-sumber yang perlu dihindari.

Modul 2 Langkah cerdas membangun dan berbagi pengetahuan baru juga dibagi dalam tiga segmen: yaitu segmen D, metode analisis informasi tekstual, jenis informasi yang penting dianalisis; segmen E, pemahaman tentang kutipan dan parafrase, jenis-jenis kutipan dan fungsinya, dan bagaimana menggunakan alat bantu parafrase. Segmen F, membahas apa itu Citation Index, menghitung H-index, cara melakukan identifikasi jurnal predator, dan latihan menggunakan aplikasi desain Canva untuk diseminasi pengetahuan berbasis gambar.

Selain kedua modul itu, narasumber juga memberikan materi bagaimana menggunakan fitur pencarian lanjutan di Google, penggunaan Google Syntax, sumber-sumber informasi terbuka (open sources), perbandingan antara Scopus dan WoS dan perbedaaan antara SQ3R, SQ4R, dan PQ4R yang diperkenalkan oleh Dhama Gustiar Baskoro.

Penutup

Produksi informasi secara masif menyebabkan informasi di dunia digital sangat melimpah. Ditambah lagi dengan kompleksnya situasi Indonesia selama dua tahun terakhir dikarenakan pandemi yang memaksa kita mengubah pola dan praktik pembelajaran di perguruan tinggi. Kondisi ini merupakan tantangan untuk pustakawan untuk dapat segera beradaptasi pada metode pembelajaran baru melalui jaringan internet atau blended learning (menggabungkan belajar online dan tatap muka).

Bimbingan Teknis sangat dibutuhkan oleh Pustakawan untuk selalu bisa menjadi agen informasi yang mumpuni dan profesional dalam melayani pemustaka.

@trianadyah