Perpustakaan modern tidak lagi cukup hanya menyediakan akses informasi; ia juga dituntut untuk mampu menunjukkan kinerjanya secara terukur dan berdampak. Dalam semangat peningkatan mutu layanan, diselenggarakan Workshop Analisis Kinerja Perpustakaan Berbasis SNI ISO 11620:2023 (Kinerja) dan SNI ISO 16439 (Dampak), yang menghadirkan pendekatan sistematis untuk menilai sejauh mana perpustakaan memenuhi perannya sebagai pusat pengetahuan dan layanan publik.
“Kita tidak bisa memperbaiki kinerja tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang menjadi standar dari kinerja yang baik.” ucap Wiwid Dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia menyampaikan slogan dari materi yang dibahas.
Mengapa Perlu Mengukur Kinerja Perpustakaan?
Kegiatan evaluasi bukan sekadar rutinitas administratif. Mengukur dan melaporkan kinerja adalah kebutuhan strategis yang menghasilkan data terukur dan terdokumentasi. Hasil pengukuran ini dapat digunakan sebagai:
- Dasar pengambilan keputusan kebijakan internal.
- Alasan penambahan SDM, koleksi, atau sarana.
- Justifikasi penyusunan program dan anggaran tahunan.
- Syarat pertanggungjawaban penggunaan anggaran, yang umumnya dilaporkan minimal sekali dalam setahun.
Mengenal SNI ISO 11620:2023 dan ISO 16439:2014
SNI ISO 11620:2023 adalah standar internasional yang menyediakan 62 indikator kinerja terstruktur untuk semua jenis perpustakaan. Standar ini mengalami revisi dari versi sebelumnya (2012 dan 2014), dengan penambahan istilah baru dan penekanan pada manajemen mutu.
SNI ISO 16439:2014 berfokus pada pengukuran dampak perpustakaan terhadap masyarakat, pengguna, dan pemangku kepentingan.
Standar ini:
- Memfasilitasi benchmarking antar-perpustakaan.
- Terintegrasi dengan prinsip manajemen mutu (SNI ISO 9001).
- Mendukung pelaporan berbasis indikator SDGs.
- Menjadi referensi penting dalam penyusunan SKKNI bidang perpustakaan.
Navigasi Menuju Perpustakaan Berkinerja Tinggi
Pentingnya “navigasi” kinerja, yakni kemampuan perpustakaan sebagai navigator dalam menghadapi ketidakpastian, baik internal maupun eksternal. Dalam pengelolaan perpustakaan, masa depan bisa berubah, tetapi arah dan strategi tetap harus jelas.Tiga hal yang harus diketahui adalah,
- Pengantar dan Pengenalan ISO
- Perbedaan antara standar lama dan baru.
- Ruang lingkup dan manfaat ISO 11620:2023.
- Pemahaman Indikator
- Menjelaskan tiap indikator beserta contoh penerapannya.
- Membedakan antara indikator kinerja dan indikator dampak.
- Praktik Pengukuran
- Peserta mencoba mengidentifikasi indikator relevan.
- Melakukan simulasi pengumpulan dan analisis data.
Strategi Praktis Pengukuran Kinerja
Langkah-langkah implementasi yang disarankan:
- Persiapan & Perencanaan: Identifikasi kebutuhan, sumber daya, dan tujuan evaluasi.
- Implementasi Struktur: Menetapkan peran tim pengelola indikator.
- Pengumpulan & Analisis Data: Menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif:
- Pelaporan & Tindak Lanjut: Menyusun laporan profesional yang bisa digunakan untuk advokasi anggaran atau kebijakan.
- Penguatan Kapasitas: Melakukan pelatihan internal untuk memastikan keberlanjutan proses evaluasi.
Contoh Indikator yang Relevan
Beberapa indikator konkret yang dapat diterapkan:
- Persentase staf yang mendukung kegiatan riset.
- Jumlah peminjaman per pengguna aktif.
- Tingkat kepuasan pengguna terhadap layanan daring.
- Rasio koleksi digital terhadap cetak.
Kesimpulan
Penggunaan SNI ISO 11620:2023 dan ISO 16439:2014 bukan hanya soal memenuhi standar, tetapi juga langkah strategis untuk menjadikan perpustakaan lebih profesional, adaptif, dan berdampak nyata. Dengan indikator yang jelas dan pendekatan manajemen mutu, perpustakaan dapat membuktikan kontribusinya dalam mendukung literasi hukum, akademik, dan kebijakan publik secara lebih terukur.
