Kegiatan

Mari Bersatu, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!”

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Karena jika meninggalkan sejarah yang sudah, akan berdiri diatas vacuum, akan berdiri diatas kekosongan dan lantas menjadi bingung, dan perjuangan paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk seperti kera kejepit di dalam gelap. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau, hal itu tidak mungkin, sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini, adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan-perjuangan di masa yang lampau.”

Itulah sepenggal paragraph yang tertuang dalam Pidato Presiden Soekarna berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” atau Never leave history. Pidato tersebut merupakan amanat proklamasi terakhir dari Presiden Soekarno di Jakarta pada 17 Agustus 1966.

Secara umum pidato tersebut berbicara tentang penjelasan Revolusi Indonesia. Perjalanan Revolusi Indonesia, sejarah Revolusi Indonesia, pertumbuhan Revolusi Indonesia. Revolusi Indonesia yang berprinsip menjebol dan membangun dalam perjalanannya sejak 1945-1966 yang mengalami dinamika, romantika dan dialetika.

Revolusi Indonesia pada saat itu sudah berjalan selama 21 tahun yang terkadang mengalami pahit-hitam, tapi juga terkadang cemerlang. Selama masa itu juga, Indonesia dihadapkan dengan terjadinya Gestok 1965 yang menandai hebatnya godaan dan cobaan yang menghantam Kesatuan-Jiwa-Revolusi Bangsa Indonesia.

Jika melihat fenomena sekarang ini, Indonesia pun tengah dihadapkan hal yang sama seperti pada masa Gestok 1965. Yang mana Indonesia tengah menghadapi cobaan yang menghantam Kesatuan-Jiwa-Revolusi Indonesia. Misalnya saja, banyaknya kasus perpecahan diantara masyarakat saat sebelum pemilu 2019 dan setelah pemilu 2019. Kasus-kasus dugaan makar pun terjadi, hoaks yang merajalela, dan masih banyak lagi.

Maka jika mengingat kembali pada kata-kata Presiden Soekarno “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, tugas kita sebagai penerus bangsa harus meneruskan perjuangan yang sudah dirintis oleh para pendahulu yang penuh pengorbanan. Jangan sampai bangsa Indonesia tercerai berai hanya karena perbedaan pilihan, agama, maupun ras, sebab kita adalah Pancasila.

 

 

Penulis : Tuti Nour Khasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *