Kausa

Sharenting Melanggar Privasi Anak?

Ketika membuka media sosial contohnya saja Instagram, sering kali kita melihat unggahan para orang tua yang memperlihatkan aktivitas anak mereka mulai dari video atau foto lucu. Fenomena ini semakin marak terjadi, terutama dikalangan orang tua millennial. Kegiatan para orang tua yang mengunggah foto dan video anak mereka, kini dikenal dengan istilah “sharenting”. Istilah sharenting diciptakan dari kata “share” dan “parenting”, istilah ini digunakan untuk menggambarkan cara orang tua membagikan kehidupan anak-anak mereka secara online (Steinberg, 2017).

Ada beberapa alasan kenapa orang tua kerap kali melakukan sharenting, yaitu sebagai bentuk mengekspresikan kegembiraan saat melihat tumbuh kembang anak, memudahkan untuk terhubung dengan teman dan keluarga dan sebagai cara untuk mengabadikan momen si kecil. Menurut penelitian AVG Technologies yang dilakukan pada tahun 2010, rata-rata anak-anak sudah memperoleh identitas digital pada usia enam bulan (AVG Technologies, 2010). Sebagai contoh di Amerika Serikat, 92% anak dibawah usia dua tahun sudah memiliki kehadiran di media sosial dan sepertiga telah melakukan debut online sebelum mereka berusia satu hari (Duggan, Lenhart, Lampe & Ellison, 2015).

Fenomena di Indonesia sendiri tidak jauh berbeda, kini beberapa orang tua membuatkan akun media sosial atas nama anaknya, meski baru berumur kurang dari satu tahun. Tidak hanya itu, beberapa anak usia dini menjadi selebgram, karena aksi dan foto mereka yang mencuri perhatian banyak orang. Namun dari fenomena ini juga, terjadi beberapa kasus yang terjadi. Pada tahun 2016 sempat viral kasus pencatutan foto anak Ruben Onsu dan Ayu Ting Ting oleh akun “jual bayi murah” dan pada 2017 foto anak dari Nafa Urbach dipanggil oleh netizen dengan sebutan “Loli” di sebuah media. Arti kata “Loli” itu menjurus atau dipakai oleh paedofil untuk menyebut anak-anak yang disukai.

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri. M. Epid Medical Editor Klinikdokter.com, dampak negatif sharenting yaitu:

  1. Membuat anak rentan menjadi incaran paedofilia

Mengunggah anak berpose tanpa busana, atau dengan mengekspos bagian dada, paha, maupun bokong bisa membuat paedofil tertarik dengan anak Anda.

  1. Anak menjadi rentan terhadap penculikan

Terlalu update dalam mengunggah aktivitas anak di jejaring sosial bisa memudahkan penjahat untuk melakukan tindak penculikan.

  1. Penculikan digital juga bisa terjadi

Secara fisik, anak mungkin tetap bersama dengan Anda. Namun unggahan yang sangat rinci tentang si kecil di dunia maya bisa membuat identitasnya dicuri orang lain. Sang pencuri bisa saja membuat akun baru menggunakan nama anak Anda.

Berbicara sharenting, orang tua juga harus memperhatikan tentang Hak Privasi Anak. Stacey Steinberg seorang sarjana hukum dan mantan jaksa penuntut di UK, menulis dalam sebuah artikel tentang “Sharenting – in whose interests?”. Dalam tulisan tersebut, dijelaskan bahwa sebagai orang tua sudah seharusnya bisa memutuskan sendiri bagaimana cara terbaik untuk menyeimbangkan privasi anak mereka dengan minat mereka dalam berbagi cerita. Orang tua juga harus berhati-hati dalam melakukan sharenting, sebab jika anak sudah dewasa memungkinkan mereka untuk tidak setuju dengan keputusan orang tua dalam membagikan informasi pribadi baik itu yang bersifat positif atau negatif. Keputusan yang dibuat oleh orang tua mereka akan menghasilkan jejak digital yang tak terhapuskan.

Selain itu, dari kegiatan sharenting ini sangat memungkinkan informasi tentang anak mereka dapat terekspos banyak orang dan hal ini bisa menempatkan anak dalam bahaya baik sekarang atau pun masa depan (Brosch, 2018).

Kemudian, jika dilihat dari aspek hukum pada UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2000 tentang Perlindungan Anak, dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (2) bahwa “Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemerintah dan pemerintah daerah”. Dan pada Pasal 26 ayat (1) menyatakan bahwa “ Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak”.

Sehingga perlu dipikirkan lagi bagaimana orang tua dalam menshare kegiatan, foto, dan informasi tentang anak di media sosial. Agar hak anak dan kewajiban orang tua dapat terpenuhi, karena pada dasarnya orang tua adalah pelindung bagi anak-anak mereka.

Berikut solusi menghindari dampak negatif sharenting, yaitu sebagai berikut:

  • Pelajari tentang kebijakan privasi di medsos

Orang tua dapat mengatur privasi terkait siapa saja yang bisa melihat postingan mereka, misalnya hanya orang terdekat dan keluarga. Di Instagram sendiri orang tua dapat mengaktifkan “akun privat”, sehingga hanya orang-orang yang Anda ikuti saja yang bisa melihat profil dan semua postingan Anda.

  • Pertimbangkan untuk berbagi tanpa menggunakan identitas anak

Misalnya jangan terlalu mengekspos informasi pribadi sang anak, seperti nama lengkap, nama sekolahnya, dll.

  • Hindari berbagi lokasi anak atau informasi pribadi

Terutama pada audiensi yang besar, karena anak akan rentan untuk menjadi korban penculikan.

  • Perhatikan konten yang akan dibagikan

Orang tua harus lebih hati-hati dalam membagikan konten tentang anak, misalnya hindari mengupload foto anak tanpa busana.

(Steinberg, 2017) dan (Brosch, 2018)

Sebagai penutup, sharenting memang bisa mendatangkan efek negatif. Namun, bukan berarti Anda dilarang melakukannya. Sebagai orang tua, Anda hanya perlu bertindak lebih bijak dan berpikir dengan matang sebelum membagikan segala sesuatu ke publik. Dengan ini, sharenting yang Anda lakukan diharapkan tidak membahayakan keselamatan anak dan justru bisa memberikan inspirasi bagi orang lain (Putri, 2018).

 

Sumber Hukum :

UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2000 tentang Perlindungan Anak

 

Referensi :

Steinberg, Stacey . (2017).  Sharenting – in whose interests?. From http://eprints.lse.ac.uk/79156/1/Parenting%20for%20a%20Digital%20Future%20%E2%80%93%20Sharenting%20%E2%80%93%20in%20whose%20interests_.pdf

Brosch, Anna. (2018). Sharenting – Why Do Parents Violate: Their Children’s Privacy?. From http://www.educationalrev.us.edu.pl/dok/volumes/tner_4_2018.pdf#page=75

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *