Kausa

Jangan Anggap Sepele Body Shaming

Body shaming merupakan sebuah tindakan mengomentari atau mengkritik bentuk fisik baik diri sendiri ataupun orang lain. Body shaming sering kita jumpai ketika bertemu teman atau keluarga yang sudah lama tidak bertegur sapa. Biasanya tindakan body shaming ini dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja dengan dalih untuk berbasa-basi ketika memulai sebuah percakapan. Contoh body shaming yang sering di lakukan yaitu seperti memberikan komentar negatif pada seseorang yang memiliki tubuh gemuk dengan berkata “kamu tambah gemuk aja” atau “sekarang gemukkan ya”. Bisa juga memberikan komentar negatif pada seseorang yang bertubuh kurus dengan berkata “kok kurus banget sih, gak pernah makan ya” atau “makin kurus aja”. Namun  kini seiring perkembangan teknologi, body shaming sangat sering dilakukan dan kita jumpai di media sosial, misalnya memberikan komentar pada status atau postingan orang lain yang merujuk pada tindakan body shaming.

Sepanjang tahun 2018 ini saja, banyak public figure yang pernah menjadi korban body shaming di media sosial yaitu antara lain: Prilly Latuconsina, Eva Celia, Sheryl Sheinafia,  Audy Item, Cakra Khan, Kahiyang Ayu, Putri Titian dan Vicky Shu. Tidak hanya itu, baru-baru ini terdapat kasus body shaming yang dialami oleh dosen UB, fotonya di edit dari gemuk menjadi kurus dan dalam foto tersebut diberi caption yang menyindir bentuk fisik. Dampak dari tindakan sang pelaku ini membuat foto hasil editannya tersebar luas di media sosial dan menjadi bahan candaan banyak orang. Tentu hal ini sangat merugikan bagi korban, karena tindakan tersebut telah menyinggung perasaan dan mencederai nama baiknya.

Mengenai kasus ini sendiri, jika di pandang dalam perspektif hukum pidana tentu ini sudah termasuk tindakan penghinaan dan pencemaran nama baik, terlebih ini terjadi di media social. Maka pelaku sudah melanggar UU ITE Pasal 27 ayat 3 yang berbunyi:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Selain dilihat dari sudut pandang hukum pidana, tindakan body shaming juga bisa termasuk pada perbuatan melawan hukum yaitu berdasarkan pada Pasal 1365 dan 1372 K.U.H Perdata. Menurut J. Satrio dalam bukunya tentang “Gugatan Perdata Atas Dasar Penghinaan sebagai Tindakan Melawan Hukum”, menyebutkan bahwa pada asasnya ucapan atau tulisan yang menyinggung perasaan, nama baik, atau kehormatan seseorang dalam pergaulan hidup adalah bertentangan dengan “tata karma atau kepatutan dalam pergaulan hidup”, dan karenanya tindakan seperti itu merupakan tindakan melawan hukum (dalam penafsiran luas).

Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang  karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.” Pasal 1365 K.U.H Perdata

“ Tuntutan perdata tentang hal penghinaan adalah bertujuan mendapat penggantian kerugian serta pemulihan kehormatan dan nama baik.” Pasal 1372 K.U.H Perdata

Namun untuk menggugat secara perdata, tentu harus di buktikan secara jelas tindakan penghinaan dan bentuk kerugian yang dialami. Misalnya dengan ucapan atau tulisan yang mengandung unsur body shaming tersebut ternyata berdampak buruk pada kesehatan, seperti mengalami stress atau melakukan diet ekstrim sehingga melukai diri sendiri. Maka penggugat bisa mengajukan tuntutan untuk mendapatkan penggantian kerugian dan pemulihan kehormatan.

Dari paparan tersebut kita tahu bahwa tindakan body shaming termasuk pada tindakan melawan hukum, karena bisa menyinggung perasaan dan nama baik orang lain. Walaupun sebagian dari kita masih menganggap body shaming hanyalah bentuk candaan atau basa basi biasa dalam sebuah pertemanan. Namun perlu diingat, kita tidak mempunyai patokan pasti body shaming, sebab sebuah pernyataan yang dirasakan biasa saja belum tentu di rasakaan sama oleh orang lain, bisa saja pernyataan tersebut sebuah penghinaan. Oleh karena itu jangan anggap sepele body shaming, sebab dampak yang di timbulkan tidak sesepele yang dibayangkan. Dengan tidak melakukan body shaming merupakan salah satu bentuk saling menghargai dan menghormati orang lain maupun diri sendiri .

Dasar Hukum:

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Referensi :

Satrio, J. (2005). Gugat perdata atas dasar penghinaan sebagai tindakan melawan hukum. Citra Aditya Bakti.

https://kumparan.com/@kumparanhits/5-selebriti-yang-kena-body-shaming
https://www.vemale.com/ragam/117389-5-selebriti-korban-body-shaming-warganet.html

 

Penulis: Tuti Nour Khasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *