Kausa

Dulu Mahasiswa Hukum Kini Terkenang Sebagai Bapak Bangsa “Prof. Muhammad Yamin SH”

Pemuda-pemuda tahun 1928, termasuk Muhammad Yamin, boleh dikatakan mereka adalah pemuda idealis-utopis menurut ukuran zaman itu. Mereka mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, padahal kondisi dan situasi waktu itu sama sekali belum membayangkan adanya kemungkinan untuk mencapainya, waktu yang minimal sekalipun. Mereka berbicara tentang tanah, air, bangsa, bahasa, negara yang merdeka. Padahal politik pemerintah Belanda sangat keras terhadap hal-hal yang remeh dan biasa sekalipun tetapi sejarah menunjukan, bahwa cita-cita yang seakan-akan idealis-utopis itu, berkat Ridho Tuhan YME, dapat tercapai kemudian (Kutoyo, 2004).

Sawahlunto, Sumatera Barat tanggal 23 Agustus 1903, Muhammad Yamin lahir dari sepasang suami-istri bernama Usman dan Siti Sa’adah. Muhammad Yamin sejak kecil telah memiliki jiwa seni, sehingga Ia dikenal sebagai sastrawan besar angkatan punjangga baru. Muhammad Yamin juga mempunyai visi nasionalisme yang sangat kental, terbukti sejak Ia muda sudah aktif dalam organisasi pergerakan salah satunya yaitu Jong Sumatranen Bond di Sumatera.

Tidak hanya tertarik pada sastra dan organisasi pergerakan, Muhammad Yamin juga tertarik pada bidang hukum. Pada tahun 1928, Ia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Tingkat 1 di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta. Selama menjadi mahasiswa, Ia juga aktif menjadi anggota Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Sesudah tamat dari Sekolah Tinggi Hukum, Muhammad Yamin bersama dengan Mr. Amir Syarifuddin membuka kantor advokat.

Kemudian dalam perjuangan Indonesia meraih kemerdekaannya, Muhammad Yamin banyak mengambil peranan penting. Contohnya, pada sidang ke 1 BPUPKI 28 Mei 1945, Muhammad Yamin menyumbangkan pemikirannya terkait dengan asas dan dasar negara RI yaitu : Peri kebangsaan; peri kemanusiaan; peri ketuhanan, peri kerakyatan; dan kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, pada sidang ke 2 BPUPKI Muhammad Yamin kembali menyampaikan beberapa pendapatnya yaitu:

  1. Rancangan UUD harus memberi jaminan bagi hak asasi manusia, sehingga UUD RI memuat pasal yang menjamin kebebasan berkumpul dan berserikat, serta mengemukakan pendapat.
  2. Mengemukakan tentang MA yang berhak menetapkan UU yang bertentangan dengan UUD.
  3. Penentuan daerah ibu kota.

Hal tersebut merupakan bagian kecil dari peranan Muhammad Yamin dalam perjuangannya agar Indonesia merdeka. Kemerdekaan Indonesia bisa terwujud bukan hanya kerja satu atau dua orang akan tetapi berkat persatuan rakyat Indonesia yang sama-sama berjuang agar Indonesia meraih kemerdekaan yang dicita-citakan. Bagi Muhammad Yamin sendiri, persatuan Indonesia bukanlah sekedar maksud, cita-cita ataupun kepercayaan, tetapi lebih kepada perkara darah daging, dan perkara perasaan yang menghidupkan batang tubuh bangsa.

 

Referensi :

Kutoyo, S. (2004). Prof. H. Muhammad Yamin SH: cita-cita dan perjuangan seorang bapak bangsa. Mutiara Sumber Widya.

Gunawan, R. (2005). Muhammad Yamin dan cita-cita persatuan Indonesia. Ombak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *