Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik

Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik

Judul           : Pahlawan-Pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik

Pengarang : Saya Sasaki Shiraishi

Edisi             : Cet.1

Penerbitan  : Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2001

Kolasi          : 290 p.: il.; 21 cm.

ISBN            : 9789792690224

Konsep keluarga yang dijelaskan oleh Sasaki dalam buku ini adalah keluarga dalam arti hierarki. Dengan menganggap diri sebagai bapak, Soeharto menciptakan makna dirinya sebagai orang yang berkuasa atas anak-anaknya. Maka itu, ia wajib dipatuhi.

Buku ini menggunakan pendekatan antropologi linguistik pada penggunaan kata-kata metafora. Pada bab-bab awal, dilihat perkembangan kata antar-bawa dan bapak yang sarat akan makna konotatif terkait kehidupan pada masa Orde Baru. Itu membawa analisis makna terkait hubungan antara bapak dan anak, politik ABS (asal bapak senang) sebagai politik kotor. Data yang disajikan dalam buku ini merupakan hasil wawancara, pengamatan, dan studi pustaka yang dilakukan oleh Saya Sasaki Shiraishi.

Karena melalui pendekatan antropologi linguistik, banyak potongan kalimat dijadikan bahan analisis. Dalam peristiwa yang tergambar dalam film G 30 S, misalnya, Sasaki melihat kudeta yang digambarkan dengan menghancurkan pekarangan sebuah keluarga; bukan negara. Lemahnya kontrol masyarakat terhadap pemerintah jarang dipahami sebagai masalah struktur politik, melainkan perkara hubungan pribadi sehari-hari. Jika tidak tahu caranya, justru diharapkan bisa dimanipulasi.

Orde Lama dan Orde Baru mengembangkan pemikiran melalui konsep kekeluargaan atau famili-isme. Konsep itu terinspirasi dari konsep kejawen dalam pendidikan Taman Siswa. Salah satunya adalah penggunaan istilah Bapak/Ibu untuk guru Taman Siswa. Kemudian, konsep itu dikembangkan, misalnya penggunaan Bapak/Ibu yang mulai digunakan di kantor-kantor pemerintah setelah kemerdekaan.

Konsep Ki Hadjar Dewantara yang tercermin dalam Tut Wuri Handayani mengembangkan metode pendidikan sebagai alternatif kelas yang terlalu diatur. Kemudian, oleh Soeharto, konsep itu diterjemahkan sebagai dasar politik nasional Orde Baru. Adanya pengawas atau mata yang menghukum.

Dalam bahasan lain, Sasaki menyatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan lingua franca yang kosong tanpa makna dan tak dimiliki oleh khalayak yang menggunakannya setiap hari. Untuk itu, menurutnya, bahasa Indonesia dipelajari bukan bukan hanya sekadar melalui tata bahasa dan sintaksis, tetapi juga apa yang harus tetap dikatakan dan betapa penting untuk mengetahui apa yang terjadi di balik kebisuan.

No comments yet

Kirim komentar

Plain text

  • Tidak ada tag HTML yang diperbolehkan.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy.